Mari Kita Bicara Transfer Manchester City Musim Ini

Nathan Ake (Foto: Manchester City)

Menarik untuk mengomentari transfer Manchester City. Sebagai klub sultan yang anggaran transfernya tiap tahun seperti tak ada habisnya dan ambisi juara Liga Champions, tentu standar transfernya beda.

Musim lalu, ManCity bisa dibilang hancur-hancuran. Nirgelar. Tercecer jauh dari sang juara Liverpool (meski masih runner-up). Di liga champions, jangankan juara, semi-final saja belum pernah terjejak.

Lini belakang jadi sumber masalah. Aymeric Laporte yang tampil gemilang di musim 2018/2019 harus kehilangan cukup banyak menit bermain karena cedera. John Stones penampilannya belum memuaskan Pep Guardiola. Padahal Vincent Kompany sudah hengkang. Dampaknya Fernandinho yang sejatinya seorang gelandang harus dikorbankan menjadi pemain belakang.

Akibatnya fatal. Meski musim lalu lini serang ManCity sangat mengerikan dengan mencetak 102 gol dari 38 lagi di liga, tapi mereka kebobolan 35 gol. Bandingkan dengan musim 2018/2019 dimana mereka hanya kebobolan 23 gol. Dampaknya jelas. Sepanjang musim 2019/2020 ManCity harus menderita kekalahan sebanyak 9 kali, sementara semusim sebelumnya mereka hanya kalah sebanyak 4 kali.

Pertanyaannya, apa yang sudah mereka lakukan di bursa transfer musim panas ini? Transfer besar yang sudah dilakukan sejauh ini sebanyak tiga pemain. Satu pemain belakang dan dua penyerang. Nathan Ake yang berposisi sebagai pemain bertahan menjadi transfer termahal sejauh ini dengan banderol £40 juta dari Bournemouth. Dua penyerang yang didatangkan yaitu Ferran Torres sebesar £20,75 juta dari Valencia, dan Pablo Moreno sebesar £9 juta dari Juventus.

Transfer yang dilakukan ManCity bisa dibilang setengah tepat. Dari segi posisi tepat. Mereka butuh pemain belakang dan penyerang. Mereka perlu pemain belakang untuk menambal lubang di lini belakang dan penyerang untuk menggantikan Sergio Aguero yang sudah menua. Tapi dari segi kualitas kurang tepat. Apalagi  jika targetnya juara Liga Champions.

Nathan Ake adalah bek yang berpengalaman di Liga Inggris. Secara teknik, bisa dikatakan di atas rata-rata para pemain belakang di liga. Tapi tidak cukup spesial untuk tim sekelas ManCity. Menurut data sofascore, Ake rata-rata mencatatkan 1,2 intersep per game dan 1,1 tekel per game. Tingkat kemenangannya dalam duel di udara juga hanya 50%. Mungkin karena tinggi badannya yang hanya 180 cm. Namun, Nathan Ake hanya 0,3 kali dilewati pemain lawan per game.

Beralih ke lini depan, transfer yang menonjol hanya Ferran Torres. Itu pun sebenarnya belum standar tim juara. Meski tampil apik di Liga Champions dengan mengemas 2 gol dan 2 assist dari 6 laga, namun catatannya di Liga Spanyol kurang memuaskan dengan hanya mencetak 4 gol dan 5 assist dari 34 laga. Kalau ManCity merasa kurang puas dengan performa Gabriel Jesus, sepertinya Ferran Torres bukan solusi. Gabriel Jesus masih jauh lebih baik daripada Torres. Usia Ferran Torres memang baru 21 tahun, tapi apakah ManCity mau menunggu?

Melihat transfer sejauh ini, sepertinya performa ManCity tidak akan berbeda jauh dibanding musim lalu. Pembelian yang dilakukan sepertinya tidak cukup kuat untuk masuk dalam starting lineup. Bisa jadi karena ManCity tak ingin tersandung kasus FFP lagi. Atau mungkin karena uang minyak agak seret belakangan ini. Apalagi uang tiket juga sepertinya tak bisa diandalkan.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas footballmagz.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas