Roberto Baggio dan Kisah Seorang Legenda yang Tak Beruntung Karirnya

Roberto Baggio di Masa Keemasannya

Dalam hidup, terkadang sesuatu tidak berjalan dengan semestinya. Adakalanya seseorang mengalami serangkaian ketidakberuntungan yang tak kunjung henti meski miliki kemampuan yang tidak ada tandingannya. Salah satu legenda yang takdirnya kurang beruntung itu adalah Roberto Baggio.

Seorang pemain yang dianugerahi dengan kejeniusan, visi, dan kemampuan teknis yang sangat memukau siapapun yang menyaksikannya di lapangan. Namun keberuntungan seakan menjauhi dirinya.

Memulai karir di tim junior Caldogno dan Vicenza, Baggio tampil pertama kali di kompetisi profesional sebagai pemain pengganti pada pertandingan terakhir liga di klub Vicenza yang tampil di Serie C1. Hal ini terjadi pada 5 Juni 1983.

Di akhir musim 1984/1985, Baggio menarik perhatian beberapa klub besar Italia. Baggio memilih Fiorentina. Dua hari sebelum kepindahan ini terjadi, Baggio mengalami cedera parah. Anterior Cruciate Ligament (ACL) dan Meniskus di lutut kanannya rusak saat berupaya melakukan sliding tackle menghadapi Rimini. Karir Baggio terancam.

Walaupun demikian, Fiorentina tetap menaruh kepercayaan pada Baggio. Transfer senilai £1.5 juta tetap dilakukan. Konon, kepercayaan Fiorentina ini menjadi salah satu alasan mengapa Baggio memiliki keterikatan batin dengan Fiorentina.

Dua musim pertama Baggio diisi dengan pemulihan. Musim 1988/1989 menjadi musim pertama Baggio cukup fit untuk bermain sepanjang musim. Total 15 gol dilesakkannya di liga yang menempatkannya di posisi ketiga capocannoniere (top skor) Serie A musim itu. Semusim kemudian Baggio berhasil membawa Fiorentina ke final piala UEFA (kini bernama Europa League). Namun mereka kalah 3-1 dari Juventus.

Pada awal musim 1990/1991 terjadi kehebohan. Roberto Baggio dijual ke Juventus dengan nilai tebusan sebesar £8 juta. Ini adalah rekor transfer termahal di dunia saat itu. Lebih heboh lagi karena Juventus adalah rival Fiorentina. Terjadi kerusuhan di Florence. Baggio mengatakan, “Saya terpaksa menerima transfer ini.”

Ketika Juventus menghadapi Fiorentina pada 7 April 1991, Roberto Baggio menolak untuk mengeksekusi tendangan penalti. Ketika Baggio kemudian diganti, Baggio mengambil syal Fiorentina yang dilempar ke lapangan. Gestur ini memunculkan simpati dari para pendukung Fiorentina dan memicu kemarahan pendukung Juventus. Baggio mengatakan, “Jauh di lubuk hatiku aku selalu ungu.”

Namun cepat atau lambat, pendukung Juventus jatuh hati juga pada Roberto Baggio. Bagaimanapun, performa gemilang Baggio tak bisa ditutupi. Bahkan Baggio akhirnya menjadi kapten Juventus.

Baggio berhasil membawa Juventus menjuarai piala UEFA pada musim 1992/1993. Di final, mereka menggulung Borussia Dortmund dengan skor agregat 6-1. Sebuah rekor kemenangan tertinggi. Di musim ini, Baggio meraih penghargaan Ballon d’Or dan FIFA World Player of the Year.

Piala Dunia 1994 menjadi salah satu puncak penampilan Baggio di sepanjang karirnya. Banyak pundit yang menyebut bahwa Baggio seorang diri membawa Italia ke final. Akan tetapi, di ingatan orang kebanyakan yang terbayang justru tendangan penaltinya yang melambung tinggi. Italia kalah di babak adu penalti. Brazil juaranya.

Musim 1994/1995 menjadi titik balik dalam karirnya. Di sinilah ketidakberuntungan karir Roberto Baggio dimulai. Marcello Lippi masuk menjadi pelatih Juventus menggantikan Giovanni Trapattoni. Lippi sepertinya kurang menyukai Baggio.

Kondisi semakin tidak menguntungkan bagi Baggio karena di sepanjang musim dirinya banyak berkutat dengan cedera. Semakin tidak menguntungkan lagi karena di musim ini seorang pemain muda berbakat semakin menunjukkan sinarnya. Dia adalah Alessandro Del Piero. Di akhir musim, Baggio terpaksa pergi. Juventus memilih untuk fokus membangun tim dengan Del Piero sebagai pusatnya.

AC Milan menjadi klub barunya. Di musim pertama, semua berjalan dengan baik. AC Milan meraih scudetto dan Roberto Baggio menjadi pemain terbaik versi pendukung Milan. Di musim kedua bencana datang. Fabio Capello meninggalkan AC Milan. Sang pengganti, Oscar Tabarez, tak menyukai Baggio. Baggio tersisihkan. Di pertengahan musim, Tabarez dipecat setelah serangkaian hasil buruk. Pelatih legendaris Arrigo Sacchi masuk. Apes bagi Baggio karena ia berselisih dengan Sacchi pasca Piala Dunia 1994. Baggio semakin tersingkir.

Musim 1997/1998, Fabio Capello kembali ke AC Milan. Namun Capello menegaskan bahwa Baggio tak ada dalam rencananya. Baggio harus pergi. Sejatinya Baggio akan pindah ke Parma. Akan tetapi, Carlo Ancelotti, pelatih Parma saat itu, merasa bahwa Baggio tak akan cocok dengan formasi 4-4-2-nya. Sebuah keputusan yang di kemudian hari disesali oleh Don Carlo. Ia akhirnya menyadari bahwa dirinya terlalu naif saat itu dengan meyakini 4-4-2 adalah formula untuk sukses dan pemain kreatif semacam Roberto Baggio dan Giafranco Zola tak akan cocok untuk formasi itu.

Baggio akhirnya pindah ke Bologna. Di sana ia menggila. Baggio mencetak 22 gol di liga, sementara total gol satu tim Bologna di kompetisi hanya sebanyak 55 gol saja. Sebanyak 40% gol Bologna dicetak Roberto Baggio seorang diri.

Penampilan gemilang ini membuat Baggio dipanggil kembali ke timnas Italia ke Piala Dunia 1998. Baggio tampil gemilang kala itu meski Italia harus kalah di babak perempat final. Mereka kalah adu penalti menghadapi Perancis, sang tuan rumah yang nantinya menjadi juara kompetisi.

Pasca piala dunia, Roberto Baggio mendapat tawaran dari salah satu klub raksasa Italian, Inter Milan. Baggio setuju. Apes, Inter Milan kala itu dirundung berbagai masalah. Mereka sampai mengganti pelatih tiga kali dalam satu musim saja. Baggio sendiri juga sering cedera. Musim berikutnya tidak lebih baik. Pelatih yang mendepaknya dari masa-masa keemasannya di Juventus, Marcello Lippi, ditunjuk jadi pelatih. Baggio sekali lagi tersisih.

Roberto Baggio pindah ke Brescia. Di sinilah Baggio kembali menunjukkan kilaunya meski usia tak lagi muda. Usianya 33 tahun kala itu. Brescia menjadi juara Piala Intertoto musim 2000/2001, dan Baggio masuk dalam nominasi Ballon d’Or meski harus puas ada di peringkat 25. Baggio digadang-gadang untuk tampil di Piala Dunia 2002.

Musim kedua dimulai dengan baik. Delapan gol dicetak hanya dari sembilan laga. Baggio ada di puncak capocannoniere. Namun badai cedera itu datang. Meski Baggio sudah dalam kondisi fit jelang akhir musim, pelatih timnas Italia saat itu Giovanni Trapattoni tidak mau mengambil risiko. Baggio tidak dipanggil.

Roberto Baggio kemudian bertahan di Brescia dua musim lagi sebelum akhirnya pensiun. Total 205 gol dicetaknya di Serie A. Brescia mempensiunkan nomor punggung 10-nya untuk Baggio. Bagi Brescia, Baggio adalah pemain terbesar sepanjang sejarah mereka. Tidak pernah sebelumnya dalam 40 tahun Brescia lolos dari degradasi pasca promosi ke Serie A. Mereka selalu angkat koper di kesempatan pertama. Bersama Baggio, bukan saja mereka tidak pernah terdegradasi, melainkan juga tampil solid di Serie A.

Inilah akhir kisah Roberto Baggio. Seorang legenda dengan skill, visi, dan kecerdasan di atas rata-rata. Hanya saja, takdir baik tak berpihak kepadanya.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas footballmagz.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas