Tim Marseille 1992/1993: Juara Eropa dan Sebuah Ironi

Foto: Medium/Mof Gimmers

Perancis dan romantisme layaknya jodoh yang tak tertukar. Mulai dari penataan kota, kuliner, budaya, dan juga sepak bola. Perancis tidak hanya memainkan bola yang sekedar pragmatis, namun juga memiliki playmaker yang penuh keindahan. Mulai dari Michel Platini, Zinedine Zidane, dan yang terakhir adalah Paul Pogba. Oke, mungkin Paul Pogba terdengar sedikit kontroversi. Namun percayalah, di luar Manchester United, Pogba adalah sebuah karya seni.

Di level timnas, sepakbola Perancis tidak diragukan lagi. Dalam 25 tahun terakhir, mereka sanggup menjuarai piala dunia dua kali dan piala Eropa satu kali. Kalau saja Zinedine Zidane tidak terprovokasi di final 2006, mungkin sudah tiga kali piala dunia mereka raih.

Anda boleh saja membela Zidane. Dan saya akui Materazzi memang menyebalkan. Namun provokasi adalah bagian dari pertandingan. Saya yakin banyak pemain yang juga mengalami provokasi di lapangan seperti Zidane, namun nyatanya banyak yang berhasil menahan diri.

Di level klub, terjadi situasi yang cukup berkebalikan. Klub-klub Perancis tidak benar-benar bisa memberikan hasil yang membanggakan di Eropa. Bahkan, klub OKB (Orang Kaya Baru) Paris Saint-Germaine (PSG) belum bisa menjadi juara meski sudah diguyur habis-habisan dengan uang Timur Tengah. Namun, ada satu klub Perancis, dan hanya satu-satunya, yang pernah menjadi juara UEFA Champions League (UCL), yaitu Olympique de Marseille.

Kala itu, UCL hanya diikuti oleh para juara liga. Masing-masing liga hanya mengirimkan satu wakil saja. Di putaran pertama, Marseille berhasil menghajar Glentoran dengan skor agregat 8-0. Glentoran adalah juara Liga Irlandia Utara. Di putaran kedua, giliran juara Rumania, Dinamo București, yang menjadi korban. Sempat bermain imbang 0-0 di kandang Dinamo, Stade Vélodrome menjadi saksi kemenangan 2-0 Marseille di kandang sendiri.

Di putaran berikutnya, yaitu sistem grup, Marseille berhasil menjadi juara Grup A usai mengemas 9 poin. Nilai ini diperoleh setelah mereka meraih 3 kemenangan dan 3 hasil imbang. Anda mungkin bingung, tapi di era itu kemenangan hanya memberikan 2 poin saja. Glasgow Rangers menempel di peringkat kedua dengan 8 poin, Club Brugge 5 poin, dan CSKA Moskow hanya memperoleh 2 poin.

Di final, Marseille harus berhadapan dengan favorit juara AC Milan. Rossoneri saat itu begitu digdaya di sepanjang kompetisi. Mereka mencatatkan 100% kemenangan menuju final. Tak cukup sampai di situ, mereka juga cuma satu kali kebobolan. Hanya Romario saja yang berhasil menjebol gawang AC Milan yang dikawal Sebastiano Rossi. Itupun PSV Eindhoven masih kalah 1-2 di kandang sendiri.

Coba perhatikan deretan nama-nama pemain AC Milan yang begitu mentereng ini: Franco Baresi, Paolo Maldini, Roberto Donadoni, Franck Rijkaard, Marco van Basten, dan masih banyak lagi.

Sejatinya Marseille sendiri tak patut diremehkan. Meski tidak seglamor AC Milan, mereka juga punya beberapa pemain berbakat. Sebut saja Fabien Barthez, Marcel Desailly, Didier Deschamps dan Alen Bokšić. Mereka juga punya penyerang berpengalaman, Rudi Völler. Sang pemenang piala dunia 1990. Namun, tetap saja tidak bisa dianggap sepadan.

Akan tetapi, yang terjadi terjadilah. Marseille justru menjadi juaranya. Gol tunggal tandukan pemain belakang Basile Boli yang berasal dari sepak pojok di menit ke-43 menjadi satu-satunya gol dalam pertandingan tersebut. Gelombang serangan dari generasi emas AC Milan tak sanggup menembus pertahanan Marseille yang digawangi oleh Fabien Barthez. Sang penjaga gawang yang kala itu belum plontos itu sampai harus jatuh-bangun menghadapi tembakan-tembakan baik dari jarak dekat maupun jauh.

Pencapaian Marseille ini tentu sangat membanggakan bagi Perancis. Apalagi, kala itu timnas Perancis belum bisa terlalu dibanggakan. Satu-satunya gelar yang mereka miliki adalah kampiun piala eropa 1984. Hanya itu.

Namun, kontroversi segera mengemuka. Enam hari sebelum final UCL, mereka harus menjalani laga penentu juara Liga Perancis. Marseille wajib menang jika ingin menjadi juara. Untuk memuluskan laga itu, Marseille menyuap tiga pemain Valenciennes agar mengalah. Harapannya, agar Marseille bisa menyimpan tenaga dan menghindari cedera.

Malang, praktik ini ternyata terendus juga. Akibatnya, French Football Federation (FFF) mencabut gelar juara liga milik Marseille dan mendegradasi mereka ke Divisi 2. Beruntung, karena pengaturan skor ini dilakukan hanya di liga, maka UEFA tidak mencabut gelar juara UCL dari Marseille. Hanya saja, mereka tidak bisa mengikuti kompetisi UCL musim depan sekalipun berstatus juara eropa, serta tidak bisa bertanding di Piala Interkontinental dan Piala Super Eropa.

Sebuah ironi dari satu-satunya klub yang pernah mengharumkan nama Perancis di pentas Eropa.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas footballmagz.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas