Trio Gelandang Muda Dibalik Kebangkitan Leicester City

Foto: Instagram/lcfc

Musim ini sungguh musim yang spesial bagi Leicester City. Mereka kembali ke papan atas English Premier League (EPL). Meski sepertinya tidak mungkin mengejar Manchester City di puncak klasemen, setidaknya mereka masih bersaing untuk memperebutkan posisi runner-up sekaligus mengamankan jatah ke Liga Champions.

Pasca menjadi juara EPL secara mengejutkan pada musim 2015/2016, prestasi Leicester City ambyar. Selama tiga musim berikutnya mereka tidak bisa melampaui peringkat 9 klasemen. Baru di musim lalu mereka setidaknya bisa menduduki peringkat 5 klasemen.

Kebangkitan Leicester City ini salah satunya memang bisa kita atribusikan kepada Brendan Rogers yang mulai menangani tim semenjak 26 Februari 2019. Catatan kepelatihan Rogers selama ini cukup apik. Ia adalah pelatih yang sempat akan mengakhiri puasa gelar juara EPL selama hampir tiga dekade yang saat itu dialami Liverpool. Ia juga mengoleksi dua gelar juara Liga Primer Skotlandia bersama Celtics.

Kini, Leicester City dibawa terbang kembali mengangkasa. Dan kunci keberhasilan Brendan Rodgers terletak pada trio gelandang muda yang dimilikinya. Ketiga gelandang itu adalah James Maddison, Wilfred Ndidi, dan Youri Tielemans.

James Maddison adalah playmaker berbakat asal Inggris yang kini baru berusia 24 tahun. Ia berhasil mencetak 11 gol dan 6 assist dari 32 laga klub di seluruh kompetisi musim ini. Kelebihan terbesar Maddison adalah tendangan jarak jauh dan crossing yang sangat menonjol. Ia membukukan rata-rata 31,2 umpan per pertandingan dengan tingkat akurasi 81,4% dan 1,8 umpan kunci per pertandingan.

Di sisi lain, Wilfred Ndidi adalah gelandang yang bertugas untuk melakukan “pekerjaan kotor” bagi tim. Maddison bisa leluasa mengatur serangan karena Ndidi menjadi tembok pertahanan yang kokoh di tengah. Per pertandingan, Ndidi melakukan 3,2 tekel, 2,5 intersep, dan 2,1 clearance. Ia juga memenangi 2 kali duel udara per game. Benar-benar pemain yang tanpa kompromi.

Sementara, Youri Tielemans adalah pemain yang lebih seimbang. Ia jago menyerang, tapi juga kuat bertahan. Total 8 gol dan 3 assist dicetak dari 40 laga klub sepanjang musim ini. Per pertandingan, Tielemans sanggup memberikan 63,1 umpan dengan akurasi 83% dimana 0,8 umpan diantaranya adalah umpan kunci. Namun, ia juga mampu mencatatkan 1,6 tekel dan 1,3 intersep per game. Sayangnya, dengan tinggi badan yang hanya 176 cm membuatnya hanya mampu memenangi 0,9 duel udara per game.

Kombinasi ketiga pemain inilah kuncinya. Ndidi menjadi tembok pemutus aliran serangan lawan. Tielemans yang menjadi penghubung antara Ndidi dengan Maddison. Sementara Maddison yang mengatur serangan. Untuk bersaing dengan Manchester City di musim ini jelas berat. Namun ketiganya dapat menjadi fondasi Leicester City dalam membangun tim ke depan. Dengan catatan, jika Leicester sanggup mempertahankan mereka. Tapi apa iya sanggup?

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas footballmagz.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas