Zidane, Ancelotti, dan Kakak-Adik yang Terpisahkan Takdir

Foto: Instagram/realmadrid

Zinedine Zidane belakangan disebut-sebut akan dipecat Real Madrid. Duduk di peringkat ketiga dan tertinggal enam angka dari pimpinan klasemen Atletico Madrid, jelas bukan sesuatu yang dapat diterima oleh klub sebesar Real Madrid. Apalagi Florentino Pérez terkenal sebagai presiden klub yang tidak sabar menanti hasil.

Kalau kita memperhatikan statistik, sejatinya Zidane memang bukan pelatih yang hebat-hebat amat. Di periode kedua kepelatihannya, Zidane hanya memiliki tingkat kemenangan sebesar 60%. Turun cukup drastis dibandingkan periode pertamanya yang sebesar 69,80%.

Mari kita bandingkan statistik ini dengan pelatih-pelatih Real Madrid sebelumnya. Jose Mourinho memiliki tingkat kemenangan sebesar 71,91%, Manuel Pellegrini 75%, dan Carlo Ancelotti 74,79%. Bahkan, Rafael Benitez yang dianggap buruk dan dipecat hanya dalam hitungan bulan kepelatihan saja sanggup memukukan 68% kemenangan. Hampir setara dengan periode pertama Zidane yang dianggap sukses besar.

Mengapa dengan statistik kemenangan seminim itu Zidane dianggap pelatih top? Karena Zidane sukses mengantarkan Real Madrid memenangi Liga Champions tiga kali berturut-turut. Itu adalah pencapaian yang luar biasa. Sekedar mempertahankan gelar juara tertinggi eropa saja tidak bisa dilakukan oleh Alex Ferguson, Marcello Lippi, dan Pep Guardiola. Ini tiga kali beruntun lho.

Namun, ada sisi gelap di balik semua keglamoran itu. Di periode penuh kejayaan itu, Real Madrid hanya dibawa Zidane juara liga hanya satu kali saja. Bahkan, di kali ketiga ia membawa Madrid juara Liga Champions, klub yang bermarkas di Santiago Bernabeu sesungguhnya hanya berada di peringkat ketiga La Liga, tertinggal 17 poin dari Barcelona yang menjadi juara. Musim lalu, Madrid Kembali dibawa Zidane menjadi juara La Liga. Namun itu lebih karena Barcelona yang kehabisan bensin di fase akhir kompetisi.

Statistik Zidane ini mengingatkan saya pada statistik Carlo Ancelotti kala menukangi AC Milan. Don Carlo hanya mengantongi 56,67% kemenangan. Padahal materi pemain AC Milan saat itu sangat mengerikan. Dida, Maldini, Nesta, Cafu, Seedorf, Rui Costa, Pirlo, Shevchenko, dan Inzaghi adalah sebagian dari skuad bertabur bintang.

Tahukah anda berapa gelar juara Liga Italia yang mereka menangi di periode itu? Hanya satu! Padahal, saya masih bisa mengingat jelas betapa membosankannya menonton AC Milan bermain di Liga Italia kala itu karena pertandingan seperti berjalan satu arah. AC Milan seakan mengurung klub-klub domestik tanpa perlawanan berarti.

Lalu, mengapa AC Milan bisa begitu lama mempertahankan Ancelotti dengan statistik seburuk itu? Karena AC Milan berhasil mencapai sebanyak final Liga Champions Eropa sebanyak tiga kali, dan memenangi dua diantaranya. Titik.

Itu sebabnya saya merasa bahwa Zinedine Zidane adalah Carlo Ancelotti. Sama-sama jago di kompetisi eropa, namun agak kepayahan di Liga.

Dan tiba-tiba saya teringat bahwa keduanya pernah dua kali bekerja sama. Sekali saat Zidane masih menjadi pemain Juventus dan Ancelotti menjadi pelatihnya. Dan sekali lagi saat Zidane menjadi pelatih Real Madrid Castilla dan Ancelotti menjadi pelatih tim Real Madrid senior.

Apakah mereka berdua sesungguhnya adalah kakak-adik yang terpisahkan oleh takdir? Hm… Jangan bikin gosip!

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas footballmagz.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas